ASUPAN KALSIUM, VITAMIN D, FOSFOR, DAN AKTIVITAS FISIK SEBAGAI FAKTOR RISIKO OSTEOPENIA PADA VEGETARIAN

 

Iklima Nurrahmah1, I Made Alit Gunawan 2, Nurul Huda Syamsiatun 3

                                                                                                                                                         1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi no. 3 Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email: iklima.03@gmail.com)

ABSTRACT

Background : More and more people began to revamp the dining habit become a vegetarian for health reasons. A vegetarian diet is associated with bone mass. The low intake of calcium, vitamin D and phosphorus, as well as the lack of physical activity leads to osteopenia risky vegetarian.

Objective: This research aims to analyze the intake of nutrients (calcium, vitamin D, phosphorus) and physical activity as risk factor osteopnia on vegetarian.

Method: This study used a case control design in the Vihara Bodhicitta Maitreya Yogyakarta. Sample research are vegetarian totalling 30 cases and 30 controls. The sample is determined by purposive sampling criteria are willing to be a sample of research, can read and write, women who have not menopause, and not being pregnant. The independent variables are the intake of nutrients (calcium, vitamin D, phosphorus) and physical activity, whereas the dependent variables is osteopenia. The Intake of nutrients obtained by method of Food Frequency Semi Quantitative (FFQ), physical activity using International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), and the osteopenia used Quantitative Ultrasound Densitometry. Analysis of risk factors using statistical test of Chi Square and Odd Ratio (OR).

Result: Vegetarians in the group with low calcium intake of cases (80%), low vitamin D intake (70%), low phosphorus intake (23.3%), and lack physical activity (83.3%). Vegetarian in the control group with enough calcium intake (53.3%), enough vitamin D intake (56.7%) enough phosphorus intake (86.7%), and of high physical activity (60%). There are a connections with a calcium intake of bone mass (p=0,007; OR= 4,571), vitamin D intake (p=0,037; OR =3,051), the ratio of calcium and phosphorus intake (p=0,020; OR=3,455), physical activity (p=0,001, OR=7,5). There are no significan relathionship of phosphorus intake with bone mass.

Conclusion: Intake of calcium, vitamin D, calcium and phosphorus intake ratios , as well as physical activity is a risk factor of osteopenia in vegetarian. Phosphorus intake is not a risk of osteopenia in vegetarians.

 Keywords:Vegetarian,intakeofcalcium,vitaminDintake,phosphorusintake,physicalactivity.

ABSTRAK

Latar Belakang :Semakin banyak orang mulai merubah kebiasaan makannya menjadi vegetarian karena alasan kesehatan. Diet vegetarian berhubungan dengan massa tulang. Rendahnya asupan kalsium, vitamin D, dan fosfor, serta kurangnya aktivitas fi sik menyebabkan vegetarian berisiko osteopenia.

Tujuan Penelitian :P enelitian ini bertujuan untuk menganalisis asupan zat gizi (kalsium, vitamin D, fosfor) dan aktivitas fi sik sebagai faktor risiko osteopnia pada vegetarian.

Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain case control di Vihara Bodhicitta Maitreya Yogyakarta. Sampel penelitian adalah vegetarian yang berjumlah 30 kasus dan 30 kontrol, usia diatas 18 tahun dengan jenis kelamin laki-laki dan wanita. Sampel diitentukan secara purposive sampling dengan kriteria bersedia menjadi sampel penelitian, dapat membaca menulis, perempuan yg belum menaupause dan tidak sedang hamil. Variabel bebas adalah asupan zat gizi (kalsium, vitamn D, fosfor) dan aktivitas fisik, sedangkan variabel terikatnya osteopenia. Asupan zat gizi diperoleh dengan metode Food Frequency Semi Quantitative (FFQ), aktivitas fi sik menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) dan osteopenia menggunakan Quantitative Ultrasound Densitometry. Pengumpul data adalah mahasiswa prodi D IV yang telah mendapatkan keterampilan dan pembekalan dalam mengumpulkan data. Analisis faktor risiko menggunakan uji statistik chi square dan Odd Ratio (OR).

Hasil: Vegetarian pada kelompok kasus dengan asupan kalsium rendah (80%), asupan vitamin D rendah (70%) asupan fosfor rendah (23,3%), dan aktivitas fisik ringan (83,3%). Vegetarian pada kelompok kontrol dengan kalsium cukup (53,3%), asupan vitamin D cukup (56,7%) asupan fosfor cukup (86,7%), dan aktivitas fisik tinggi (60%). Ada hubungan asupan kalsium dengan massa tulang (p=0,007; OR= 4,571),Asupan Vitamin D (p=0,037; OR =3,051), rasio asupan kalsium dan fosfor (p=0,020; OR=3,455), aktivitas fi sik (p=0,001, OR=7,5). Tidak ada hubungan asupan fosfor dengan massa tulang (p=0,317; OR=1,978).

Kesimpulan: Asupan kalsium, vitamin D, rasio asupan kalsium dan fosfor, serta aktivitas fisik merupakan faktor risiko osteopenia pada vegetarian, namun asupan fosfor bukan merupakan risiko osteopenia pada vegetarian.

KataKunci: Vegetarian, Asupan kalsium, asupan vitamin D, asupan fosfor, aktivitas fisik

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Gizi Klinik

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

VARIASI CAMPURAN TEPUNG TERIGU DAN BEKATUL PADA PEMBUATAN KUE NASTAR DITINJAU DARI SIFAT FISIK,ORGANOLEPTIK DAN KADAR SERAT

 

Marlinda Fitrihastuti1, Waluyo2, Noorti Fauzah3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email: waluyogizijogja@ymail.com)

ABSTRACT

BackgroundRice consumption in Indonesia ivery highBy product orice milling are rice branRice bran hamanadvantages and contains many nutrients such as vitamins, minerals and fiber. Utilization of rice bran as food is very low. Fiber intake may provide health benefit such as decreasingcholesterol level, glucose level and prevent constipation. Nastar is popular cookies of all classes insociety. Mixture of rice bran in nastar can enrich fiber content, so that the cookies has more complete nutritional value. Therefore, it is necessary to study the variation of bran mixture on nastar cookies

Objective : To know the influence of variation of wheat flour and rice bran in nastar on physical properties, organoleptic and ber content.

Method: This research was experimental study using simple random design with four treatments (0%, 25%, 30% and 35%) duplicate and three units. The physical and organoleptic test by observation, fiber level test by gravimetric method. Physical properties of data were analyzed descriptively. Data of organoleptic were analyzed with Kruskal Wallis test and Mann-Whitney. Data of fiber content were analyzed with Anova test.

Result: Rice bran mixture variation affect the fiber content of nastar. Highest of fiber content is nastar with 35% bran mixture. Rice bran mixture also affects the physical properties of cookies, there are marked differences in color, flavor, texture and flavor of nastar. The variation of bran mixture decrease level of acceptance includes color, flavor, texture and flavor of nastar. Highest Mean Rank at treatment 25% bran mixture.

Conclusion: Based on of physical properties, organoleptic and fiber content nastar cookies with a mixture of rice bran showed a difference for each treatment. Suplementation of 25% rice bran in nastar cookies give the best physical and organoleptic properties, so that it could be developed as the new variation of nastar cookies.

ABSTRAK

LatarBelakang: Konsumsi beras di Indonesia sangatlah tinggi. Salah satu limbah pengolahan beras dari penggilingan padi adalah bekatul, memiliki banyak manfaat dan mengandung banyak zat gizi seperti vitamin, mineral dan serat. Namun demikian pemanfaatan bekatul sebagai bahan pangan sangatlah rendah. Asupan serat dapat memberikan manfaat bagi kesehatan diantaranya menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar glukosa darah dan mencegah konstipasi. Kue nastar merupakan kue yang digemari masyarakat dari semua golongan. Adanya campuran bekatul pada pembuatan kue nastar dapat memperkaya kandungan serat pada kue nastar sehingga memiliki nilai gizi yang lebih lengkap. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang variasi campuran bekatul pada kue nastar.

Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh campuran bekatul dan tepung terigu pada produk kue nastar ditinjau dari sifat fi sik, organoleptik dan kadar serat.

Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan yaitu eksperimental dengan empat perlakuan (bekatul 0%, bekatul 25%, bekatul 30% dan bekatul 35%), dua kali ulangan dan tiga unit coba. Sifat fisik dan organoleptik diuji secara observasi, kadar serat ditentukan menggunkana metode gravimetri. Data sifat fisik dianalisis secara deskriptif. Data organoleptik dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan Mann-Whitney. Data kadar serat dianalisis dengan uji Anova.

Hasil: Campuran bekatul pada kue nastar berpengaruh terhadap kadar serat kue nastar. Kadar serat paling tinggi yaitu pada campuran bekatul 35% yaitu 1,35 g%. Campuran bekatul juga berpengaruh terhadap sifat fisik kue nastar, ada perbedaan yang nyata pada warna, aroma, rasa dan tekstur terhadap kontrol. Campuran bekatul pada kue nastar berpengaruh terhadap penurunan penerimaan panelis yang meliputi warna, aroma, rasa dan tekstur. Mean Rank tertinggi yaitu pada perlakuan campuran bekatul 25%.

Kesimpulan: Hasil analisis sifat fisik, organoleptik dan kadar serat kue nastar dengan campuran bekatul menunjukkan adanya perbedaan untuk tiap perlakuan. Produk yang dapat dikembangkan yaitu kue nastar dengan campuran bekatul 25%.

KataKunci: Bekatul, Nastar, Sifat fisik, Organoleptik, Serat

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Teknologi Pangan

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

TINJAUAN KEAMANAN PANGAN PADA MIE LETHEK BERDASARKAN SKOR KEAMANAN PANGAN (SKP) DAN ANGKA KUMAN

Desty Tiasari 1, Supartuti2, Elza Ismail3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tata Bumi No 3, Banyuraden Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email : destytiasari@yahoo.com)

 

ABSTRACT

Background:Food safety in big industry and local or traditional food industry icurrently being promoted bthe government. One of the local food industry to note is the use of raw material stubers starchy (starchy foods) that contain lots of fiber and ittakes the body, such as the use of cassava in the manufacture of Mie Lethek. Food safety in Mie Lethek can be identified based on the security using the assessment Food Safety Score or Skor Keamanan Pangan (SKP) and the test method number germs.

Objective: to know food safety of Mie Lethek based Food Safety Score or Skor Keamanan Pangan (SKP) and the number of bacteria Mie Lethek.

Method: This study is an observational study with analytic descriptive research through cross-sectional approach. The object in this study were two factory Mie Lethek in Srandakan, Bantul, Yogyakarta. The location and time of this research was carried out in two factory Mie Lethek Srandakan Bantul Yogyakarta, in June 2014, the date of 4th, 6th, and June 11th, 2014 in Factory A and the 5th, 8th and June 12th, 2014 in Factory B. Score Food Safety or Skor Keamanan Pangan (SKP) conducted direct observation in both factory and number bacteria testing of Mie Lethek carried in Balai Labroratorium Kesehatan (BLK) Yogyakarta.

Result: Food Safety Score or Skor Keamanan Pangan (SKP) in Mie Lethek A was 62.77%, based in the category of assessment SKP Prone, But Safe for Consumption, while at SKP Mie Lethek B was 61.72, in the category of Vulnerable, But Not Safe for Consumption. Number of bacteria on Mie Lethek A of 4.5 x 105 colonies / g, in the category Safe, while the number of bacteria in Mie Lethek B of 2.0 x 106 colonies / g, in the category of Not Safe.

Conclusion: Under the circumstances it, show that the behavior at the time of processing affect the security of the resulting product.

Keywords:Food Safety, Food Safety Score or Skor Keamanan Pangan (SKP), Figures Germs, Mie  Lethek.

ABSTRAK

LatarBelakang: Keamanan pangan pada industri besar maupun industri pangan lokal dan tradisional saat ini sedang digalakkan pemerintah. Salah satu industri pangan lokal yang perlu diperhatikan adalah industri yang menggunakan bahan baku umbi-umbian berpati (starchyfoods) yang banyak mengandung serat dan dibutuhkan tubuh, seperti penggunaan ubi kayu pada pembuatan Mie Lethek. Keamanan pangan pada Mie Lethek dapat diidentifikasi berdasarkan penilaian Skor Keamanan Pangan (SKP) dan pengujian angka kuman.

Tujuan Penelitian: Diketahuinya keamanan pangan Mie Lethek berdasarkan Skor Keamanan Pangan (SKP) dan angka kuman Mie Lethek.

Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan jenis penelitian deskriptif analitik melalui pendekatan cross sectional. Obyek pada penelitian ini adalah dua pabrik Mie Lethek di Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di pabrik pembuatan Mie Lethek Kecamatan Srandakan Kabupaten Bantul Yogyakarta, pada bulan Juni tahun 2014, yaitu tanggal 4, 6, dan 11 Juni 2014 di Pabrik A dan tanggal 5, 8 dan 12 Juni 2014 di Pabrik B. Skor Keamanan Pangan (SKP) dilakukan dengan observasi langsung pada kedua pabrik Mie Lethek dan pengujian angka kuman dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Yogyakarta.

Hasil: SKP pada Mie Lethek A sebesar 62.77%, masuk dalam kategori Rawan, Tetapi Aman Dikonsumsi, sedangkan SKP pada Mie Lethek B sebesar 61.72% masuk dalam kategori Rawan, Tetapi Tidak Aman Dikonsumsi. Angka kuman pada Mie Lethek A sebesar 4.5 x 105 koloni/gr masuk dalam kategori Aman, sedangkan angka kuman pada Mie Lethek B sebesar 2.0 x 106 koloni/gr masuk dalam kategori Tidak Aman.

Kesimpulan: Berdasarkan keadaan tersebut, menunjukkan bahwa prilaku pada saat proses pengolahan mempengaruhi keamanan produk yang dihasilkan.

KataKunci: Keamanan Pangan, Skor Keamanan Pangan (SKP), Angka Kuman, Mie Lethek

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Teknologi Pangan

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

DAYA TERIMA DAN KUALITAS KUDAPAN PMT-AS PADA ANAK PRASEKOLAH DI TK MASYITOH DUKUH, IMOGIRI, BANTUL

 

Yulita Megawati 1, Tjaronosari 2, Sumirah 3

 1,2,3 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, JL Tata Bumi No 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta (Email: ichimega@yahoo.co.id)

ABSTRACT

Background: The supplying ochild food school additional (PMT-AS) inutrition improvement program in kindergarten, elementary school and Raudhatul Atfal or Madrasah Ibtidayah. The minimum requirement of child food school additional is 300 calorie of energy and gram of protein. PMT-AS have aim to improve nutritional so make children familiar with healthy and nutritious foods from local foods. But actually in the PMT-AS menu, average protein just 3,76 gram and average energy just 228,14 calorie. In complete energy and protein adequacy with PMT-AS standard in PMT-AS menu can make children malnutrition. Moreover, children2-6 year old are nutrition critical age because children start eating difficult and picky with favorite food.

Objective: To know the effect quality of PMT-AS snack with acceptance for preschool children in Masyitoh Kindergarten, Dukuh, Imogiri, Bantul.

Method : The research use descriptive observational with cross-sectional study. The research subject is preschool children in Masyitoh Kindergarten, Dukuh, Imogiri, Bantul (107 children). It takes by purposive sampling method with subject criteria is B1-B4 grade with 5-6 year old and the presence students when research proceeds. The research object is PMT-AS snack. The data of PMT-AS snack quality and children acceptance obtained with food weighing and subjective assessment researcher. The relationship between variables use Chi square test.

Result: The average quality of PMT-AS snack is good and average children acceptance is good. There is no relationship between energy adequacy (p=0,579) and protein adequacy (p=0,338) with children acceptance. There is relationship between performance (p=0,026), flavor and taste (p=0,001) with children acceptance.

Conclusion: The adequacy of energy and protein contents of PMT-AS snack does not affect children acceptance, while performance, flavor and taste PMT-AS snack affects children acceptance.

Keywords : PMT-AS acceptance snack and PMT-ASquality snack.

ABSTRAK

Latarbelakang: Penyediaan makanan tambahan anak sekolah (PMT-AS) adalah program perbaikan gizi peserta didik di jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar dan Raudhathul Atfal atau Madrasah Ibtidayah. Syarat minimal makanan tambahan ini adalah energi 300 Kalori dan protein 5 gram. PMT-AS bertujuan untuk meningkatkan gizi serta mengenalkan makanan sehat dan bergizi dengan pangan local kepada anak-anak. Namun pada kenyataannya rata-rata kandungan protein dalam menu PMT-AS hanya 3,76 gram dan energi 228,14 Kalori. Ketidaksesuaian pemenuhan kecukupn kandungan energi dan protein dengan standar PMT-AS dapat mengakibatkan malnutrisi pada anak. Apalagi anak usia 2-6 tahun merupakan usia rawan gizi karena anak mulai susah makan dan pilih-pilih terhadap makanan yang ia suka.

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui pengaruh kualitas kudapan PMT-AS terhadap daya terima kudapan PMT-AS pada anak prasekolah di TK Masyitoh Dukuh, Imogiri, Bantul.

Metode penelitian: Jenis penelitian ini deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian ini adalah anak-anak pra-sekolah di TK Masyitoh Dukuh, Imogiri, Bantul (107 anak) diambil dengan metode purposive sampling dengan criteria siswa kelas B1-B4 berumur 5-6 tahun dan kehadiran siswa dalam mengikuti pelajaran saat penelitian berlangsung. Obyek penelitian anak terhadap snack PMT-AS. Data kualitas kudapan PMT-AS dan penerimaan anak terhadap snack PMT-AS diperoleh dengan metode penimbanagn dan penilaian subjektif peneliti. Hubungan keduanya di uji dengan Chi square.

Hasil : Rata-rata kualitas kudapan PMT-AS adalah bagus dan rata-rata daya terima anak baik (sisa kudapan 0%). Tidak ada hubungan antara kecukupan kandungan energi (p=0,579) dan protein (p=0,338) kudapan PMT-AS dengan daya terima anak. Ada hubungan antara tampilan (p=0,026), aroma dan rasa (p=0,001) kudapan PMT-AS mempengaruhi daya terima anak terhadap kudapan PMT-AS.

Kesimpulan : Kecukupan kandungan energi dan protein kudapan PMT-AS tidak mempengaruhi daya terima anak terhadap kudapan PMT-AS sedangkan tampilan, aroma dan rasa kudapan PMT-AS mempengaruhi daya terima anak terhadap kudapan PMT-AS.

Katakunci: Daya terima kudapan PMT-AS dan kualitas kudapan PMT-AS.

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Food Service

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015

MUTU MAKANAN BERDASARKAN KESESUAIAN SPESIFIKASI PADA PENYELENGGARAAN MAKANAN SISITEM OUT SOURCING DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SLEMAN

Eny Nurkhayati1, Yeni Prawiningdyah2, Tjarono Sari3

1,3 Jurusan Gizi Politeknik Kemenkes Yogyakarta,Jl. Tata Bumi No. 3 Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta 2 RSUP dr. Sardjito Yogyakarta, Jl. Kesehatan No. 1 Yogyakarta (email:nurkhayati_eny@yahoo.com)

ABSTRACT

Background:food service aparonutrition service in hospital ian integral parohealing process. Good quality onutrition service will occurthequality of hospital service such as in crease the healing process, decrease the needed time to stay in hospital, and decrease hospitality fee.If there is problem during nutrition service such as the appearence of food is not good, the taste of food is not good, will decrease patients appetite and amount of food that consumed by the patients. This will make the healing process become longer than expected and effect the fee for hospitality. Toproduce high quality foods, specification of food is need edin process.

Objective : knowing the food quality that compatible with food specifi cation of nutrition service with out sourcing system in Rumah Sakit Umum Daerah Sleman.

Methode : this research was an observational research with cross sectional design. This rerearch was an analitic reasearch to know the relationship between food quality with compatibility of food specifi cation that used RSUD Sleman.

Result : there was 80% of fundamental foods that compatible with food specification. There was 60% side dish from animal that compatible with food specification. There was 50% side dish from plants that compatible with food specifi cation. There was 70% vegetables that compatible with food specification. There was 79% respondens that had a good perception of the food appearience. There was 63% respondens that had a good perception of the taste of the food. Chi square analysis result showed there was relationship between food appeareance with compatibility of food specification (p=0,014) and there was relationship between the taste of food with compatibility of food specifi cation (p=0,001).

Conclusion : there was relationship between food appeareance with compatibility of food specifi cation and of nutrition service with out sourcing system in Rumah Sakit Umum Daerah Sleman

 Keywords:Food Quality, Food Specification, Nutrition Service with OutSourcing

ABSTRAK

Latarbelakang: Pelayanan gizi di rumah sakit melalui penyediaan makanan merupakan bagian integral dari upaya penyembuhan penyakit pasien. Mutu pelayanan gizi yang baik akan mempengaruhi indikator mutu pelayanan rumah sakit, yaitu meningkatkan kesembuhan, memperpendek lama rawat inap serta menurunkan biaya perawatan. Penampilan makanan kurang menarik, rasa kurang sesuai dapat menyebabkan selera makan pasien kurang, sehingga zat gizi yang masuk ke tubuh tidak optimal, selanjutnya proses penyembuhan dan pemulihan kesehatan pasien akan berlangsung lebih lama. Hal ini akan berdampak pada biaya pengobatan yang ditanggung selama masa perawatan di rumah sakit. Untuk menghasilkan makanan yang bermutu dan dapat diterima oleh pasien, makanan yang disajikan harus sesuai dengan spesifikasi makanan yang telah ditetapkan.

Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu makanan berdasarkan kesesuaian spesifikasi pada penyelenggaraan makanan sistem out-sourcing di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman.

Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman, Yogyakarta pada bulan Desember 2013. Jumlah Sampel 92 subyek dengan kriteri inklusi : pasien yang mendapat makanan biasa, berusia 17-70 tahun, minimal sudah dirawat selama 2 hari, keadaan h stabil dan sudah dapat menerima makanan lengkap, pasien dapat berkomunikasi dengan baik, bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Kriteria ekslusi : pasien yang mendapatkan makanan dari luar rumah sakit, pasien yang mendapatkan makanan dengan diet khusus, pasien dalam perawatan di ruang ICU. Variabel yang diteliti meliputi kesesuaian spesifikasi diperoleh dariform kesesuaian spesifikasi selama 10 hari pengamatan dan mutu makanan yang diperoleh dari hasil kuesioner penilaian kepuasan responden terhadap mutu makanan. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan rasa dan penampilan makanan dengan kesesuaian spesifikasi digunakan uji Chi-square. Hasil: Sebesar 80% makanan pokok sesuai spesifikasi, 60% lauk hewani sesuai spesifikasi, 50% lauk nabati sesuai spesifi kasi, dan 70% sayur sesuai spesifikasi. Sebesar 79% responden memberikan persepsi yang baik terhadap penampilan makanan yang disajikan dan sebesar 63% responden memberikan persepsi yang baik terhadap rasa makanan yang disajikan. Hasil uji Chi Square hubungan penampilan makanan dengan kesesuaian spesifikasi diperoleh p=0,014 (p<0,05) sedangkan untuk hubungan rasa makanan dengan kesesuaian spesifikasi diperoleh p=0,001 (p<0,05).

Kesimpulan: Ada hubungan antara mutu makanan dengan kesesuaian spesifikasi pada penyelenggaraan makanan sistem out-sorcing di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman

KataKunci: Mutu Makanan, Spesifikasi Makanan, Penyelenggaraan Makanan Sistem Out-Sourcing

 

Type : Jurnal Nutrisia

Bibliografi : Jurnal Nutrisia, Volume 16 Nomor 2, September 2014

Subject : Food Service

Posted by : Admin Jurusan Gizi

Posted On : 15-1-2015