KEMAMPUAN KULIT PISANG KEPOK (Musa acuminate L.) DALAM MENURUNKAN KADAR TIMBAL (Pb) DALAM AIR

Vini Widya Ningsih*, Rasman**, Andi Ruhban**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Makassar, Jl. Wijaya Kusuma I/2, Makassar 55293

email: ruhe65@rocketmail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Makassar

 

Abstract

 

Water is a resource that is absolutely indispensable for life. Based on its utility, the water quality is expected to be within the tolerance limits of proper water criteria. Good water has to meet the health requirements in terms of physical, chemical, bacteriological, and radioactivity condition, in order not to causing disease to humans. One of water problem which is frequently encountered based on the chemical condition is heavy metal pollution, such as lead (Pb), as a result of envi-ronmental pollution. One of the natural methods that can be applied to reduce the heavy metals concentration is utilization of banana peels. The purpose of this research is to determine the abi-lity of kepok banana (Musa acuminate L.) peels in decreasing the Pb level in water by conduct-ing an experiment with pre-test post-test wit control group design. The banana peel filtration me-dia is comprised of two types, i.e. original form of peel cuts and the peels which were processed into granular charcoal form. The Pb polluted water used in this study was obtained from Panam-pu Canal II in Tinumbu Street of Makassar City. The contact time between filtration media and the water was set at 60 minutes, and there were three replications. Results of the study showed that original banana peels medium could reduce Pb concentration in average of 0,0367 mg/l or  87,87 %, while the charcoal formed medium was able to reduce as much as 0,0228 mg/l in ave-rage or 54,54 % reduction.

 

Keywords : Musa acuminate L., banana peels filtration medium, Pb pollution in water

 

Intisari

 

Air merupakan sumber daya yang mutlak diperlukan untuk kehidupan. Berdasarkan kegunaan-nya, diharapkan kualitas air yang digunakan masih memenuhi batas-batas toleransi kriteria kualitas air yang layak untuk digunakan. Kualitas air yang baik harus memenuhi syarat kesehat-an secara fisik, kimia, bakteriologi dan radioaktif agar tidak menimbulkan penyakit bagi manu-sia. Salah satu bentuk permasalahan air yang sering dijumpai dari sisi persyaratan kimia yaitu adanya pencemaran oleh logam berat, seperti timbal (Pb), karena tercemarnya lingkungan. Sa-lah satu cara bersifat alami yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar logam berat ter-sebut adalah melalui pemanfaatan kulit pisang. Tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui seberapa besar kemampuan kulit pisang kepok (Musa acuminate L.) dalam me-nurunkan kadar Pb di dalam air, dengan melakukan penelitian eksperimen dengan mengikuti desain pre-test post-test with control group. Media filtrasi kulit pisang yang digunakan terdiri dari dari dua jenis yaitu potongan kulit pisang asli yang tanpa diolah dan kulit pisang yang diolah menjadi arang berbentuk granular. Air tercemar Pb yang digunakan dalam penelitian berasal dari Kanal Panampu II di Jalan Tinumbu Kota Makassar. Waktu kontak antara media filtrasi de-ngan air adalah selama 60 menit dan dilakukan tiga kali replikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media kulit pisang dalam bentuk potongan asli mampu menurunkan kadar Pb di dalam air dengan rerata sebesar 0,0367 mg/l atau 87,87 %, sedangkan perlakuan media arang kulit pisang mampu menurunkan kadar Pb dengan rerata sebesar 0,0228 mg/l atau 54,54%.

 

Kata Kunci : pisang kepok (Musa acuminate L.), media filtrasi kulit pisang, pencemaran Pb di air

 

Subject    :  Pencemaran air

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.5, No.2, November 2013, Hal 81 – 86

Posted by : admin jurusan kesling

Posted on :  8 Oktober 2014

PENGARUH KETEBALAN BULU AYAM DALAM KOTAK KAYU SEBAGAI PEREDAM SUARA UNTUK MENURUNKAN INTENSITAS KEBISINGAN MESIN PENGGILING DAGING DI PASAR SERANGAN YOGYAKARTA

Siska Septiana*, Adib Suyanto**, Sri Muryani**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: siskaseptiana3@gmail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 

Abstract 

The use of meat grinding machine produce sound with high noise intensity which can be harmful for the health and safety of workers operating the machine. Based on a preliminary survey con-ducted in 5 February 2013 at a meat shop belongs to Mr “X” located in Serangan Market of Yogyakarta, it was known that the noise intensity yielded from the grinding machine was record-ed as high as 100.4 to dB (A). Hence, this condition needs efforts to reduce the noise in order to prevent health effects which can be caused by long term and execessive exposure. One method that can be applied is by utilizing chicken feathers waste as noise reducer, and this study was aimed to determine the influence of thickness variation of the feather by doing an experiment with pre-test post-test control design. The wooden box muffler containing chicken feathers and covered the machine was made from sengon wood and laminated by plywood. The noise mea-surement were carried out in six replications for each feathers thickness by using sound level meter following the standard measurement and calculation. The results of the study showed that the feather thickness variation of 10 cm, 20 cm and 30 cm, were corresponded with in average of 14,9 %, 16,0 % and 17,5 % noise reduction, respectively. Analysis by using one way anova sta-tistical test at 95 % level of signifcance, found that the differences among the amount of the reduction were significant, and therefore it can be concluded that feather can reduce the machin-al noise level. Subsequent LSD test found that the 30 cm thickness was the most effective.

 

Keywords : meat grinding machine, machinal noise, noise muffler, chicken feathers

 

Intisari

 

Penggunaan mesin penggiling daging menghasilkan bunyi dengan kebisingan yang tinggi se-hingga dapat mengganggu kesehatan dan membahayakan keselamatan pekerja yang meng-operasikan mesin tersebut. Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 5 Februari 2013 di tempat penggilingan daging milik Bapak “X” yang berlokasi di Pasar Sera-ngan Yogyakarta, diketahui bahwa intensitas kebisingan yang terukur mencapai 100,4 dB(A), sehingga diperlukan upaya untuk mengurangi kebisingan tersebut untuk mencegah gangguan yang mungkin timbul akibat terpapar kebisingan dalam jangka waktu yang lama. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan memanfaatkan limbah bulu ayam sebagai bahan peredam suara, dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari variasi ketebalan bulu ayam itu dengan melakukan eksperimen menggunakan desain pre-test post-test with control. Kotak kayu peredam suara kebisingan yang berisi bulu ayam didalamnya, dibuat dari kayu sengon yang dilapisi oleh tripleks dan menutupi mesin penggiling. Replikasi pengukuran kebisingan di-lakukan enam kali dengan menggunakan alat sound level meter dan mengikuti prosedur peng-ukuran dan perhitungan yang baku. Hasil penelitian penunjukkan bahwa variasi ketebalan bulu ayam 10 cm, 20 cm dan 30 cm, secara berturut-turut mampu menurunkan kebisingan dengan rerata sebesar 14,9 %, 16,0 % dan 17,5 %. Pengujian secara statistik dengan anova satu jalan pada derajat kepercayaan 95 % menemukan bahwa perbedaan penurunan kebisingan dari tiga variasi ketebalan tersebut memang bermakna sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan bulu ayam berpengaruh terhadap penurunan kebisingan mesin. Hasil uji lanjutan dengan LSD menemukan bahwa ketebalan 30 cm adalah yang paling efektif.

 

Kata Kunci : mesin penggiling daging, kebisingan mesin, peredam suara, bulu ayam

Subject    :  Kesehatan Kerja

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.5, No.3, Februari 2014, Hal 140 – 150

Posted by : admin jurusan kesling

Posted on :  8 Oktober 2014

PENGGUNAAN ETANOL HASIL PENGOLAHAN SAMPAH PASAR BUAH SEBAGAI ANTISEPTIK UNTUK MENURUNKAN ANGKA KUMAN USAP TANGAN

Sarjito Eko Windarso*, Sigid Sudaryanto**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl.Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: windiarsa@gmail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 

Abstract 

Decayed and rotten fruits still contain amylum (carbohydrate) and glucose (sugar) which can be converted into ethanol by fermentation process which is followed by distillation. The ethanol furthermore can be used as antiseptic and ingredient for hand washing and hand cleansing. To know the ability of the ethanol in reducing hand swab microbe number, an experiment which was employing post-test only with control group design was conducted and comparing two ethanol concentrations. The fruit waste processed in this study were obtained from the main fruit market in Gamping, Sleman, while the examination of amylum and glucose concentration, as well as the examination of hand microbe number, were conducted in the health laboratory office of Yogya-karta Province. Descriptively, the hand microbe number yielded from both ethanol concentrations were lower than that from control group which were not washed and cleansed. The microbe number from the hands which were washed by 90 % and 100 % ethanol were 44,90 % and 79,68 % lower in average, compared with those in the control group. However, the mann-whitney non-parametric statistical test showed that only the microbe numbers between control group and the 100 % ethanol concentration group which was significantly different (p value=0,040).

 

Keywords : ethanol, rotten fruits processing, hand microbe number

 

Intisari

 

Buah-buahan yang rusak dan membusuk masih mengandung amilum (karbohidrat) dan glukosa (gula) yang dapat dirubah menjadi etanol melalui proses fermentasi yang dilanjutkan dengan dis-tilasi. Etanol tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai antiseptik dan juga bahan untuk mencuci atau membersihkan tangan. Untuk mengetahui kemampuan etanol hasil fermentasi ter-sebut dalam menurunkan angka kuman usap tangan, dilakukan penelitian eksperimen dengan menggunakan desain post-test only with control group dengan menggunakan dua konsentrasi etanol. Buah-buahan rusak dan busuk yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Pasar Induk Buah yang ada di Gamping, Sleman; sementara pemeriksaan kadar amilum dan glukosa serta angka kuman tangan dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi D. I. Yogyakarta. Secara deskriptif, terlihat bahwa angka kuman tangan yang dihasilkan dengan menggunakan ke dua konsentrasi etanol, lebih rendah dibandingkan dengan angka kuman dari tangan kelompok kontrol yang tidak dicuci dengan etanol. Secara deskriptif, etanol 90 % dan etanol 100 % meng-hasilkan rerata angka kuman 44,90 % dan 79,68 % lebih rendah dibandingkan dengan angka kuman dari kelompok kontrol. Namun, pengujian secara analitik dengan uji statistik parametrik mann-whitney menunjukkan bahwa hanya perbedaan angka kuman tangan antara etanol 100 % dan kontrol saja yang bermakna (p = 0,040).

 

Kata Kunci : etanol, pengolahan limbah buah, angka kuman tangan

Subject    :  Teknik pengolahan limbah

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.5, No.2, November 2013, Hal 69 – 73

Posted by : admin jurusan kesling

Posted on :  8 Oktober 2014

REKAYASA SOLAR DISTILATOR UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS Fe, Mn DAN KEKERUHAN SERTA KUANTITAS AIR DALAM UPAYA PENYEDIAAN AIR MINUM

Rochmad Bayu Purnomoaji*, Tuntas Bagyono**, Purwanto**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: rochmadbayu@gmail.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 

Abstract

 

Water which are used for drinking have to fulfill some requirements, both qualitatively and quanti-tatively. One of the qualitative requirements is the water must have tolerable iron and mangane-se concentration, as well as the turbidity. To gain the high quality of drinking water, support from appropriate technology is frequently required. Solar distillator, a technology used to distilate wa-ter by using solar energy, can be applied for reducing dengan concentration of those parame-ters. The purpose of this research was to ascertain the effect of the distillator towards the reduct-ion of the three parameters, as well as the output volume of the processed water gained from the device’s slope of 10º and 20º. Type of the research used was pre-experimental one with one group pre test post test design approach. There were 15 replications, and the examination of the iron and manganese concentration were held in the laboratory of Environmental Health Depart-ment fo Yogyakarta Polytechnic of Health, meanwhile for the turbidity, it was referred to the labo-ratory of Tirta Dharma Water Company in Sleman. The data were analysed by using Wilcoxon and Mann Whitney statistical tests at 95 % confidence level, and the results showed that the reduction of the all parameters’ concentration were significant (all p values were under 0,001), and the water volume yielded from the two device’s slopes were also significantly different (p va-lue < 0,001), i.e. in average, from 10º was 946 ml/ m2/day and from 20º was 1866 ml/m2/day.

    

Keywords : solar distillator, turbidity, iron, manganese, water quantity

 

Intisari

 

Air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan minum harus memenuhi beberapa per-syaratan, baik yang menyangkut kualitas maupun kuantitas. Salah satu syarat dari sisi kualitas adalah terpenuhinya kadar Fe, Mn dan kekeruhan. Untuk memperoleh kualitas air minum yang diinginkan, bantuan teknologi seringkali dibutuhkan, salah satunya adalah penggunaan alat solar distilator, yang prinsip kerjanya adalah melakukan penyulingan air dengan bantuan tenaga sinar matahari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan kadar ke tiga parameter di atas serta kuantitas air yang dihasilkan dengan menggunakan alat ini pada kemiringan 10º dan 20º. Jenis penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimen dengan menggunakan desain one group pre-test post-test. Secara keseluruhan ada 16 kali ulangan, di mana pemeriksaan kadar Fe dan Mn dilakukan di laboratorium Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Yogyakarta, dan pemeriksaan kekeruhan di laboratorium PDAM Tirta Dharma, Sleman. Data selanjutnya dianali-sis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney pada derajat kepercayaan 95 %, dan hasilnya menunjukkan bahwa penurunan kadar ketiga parameter yang diperiksa adalah sangat bermakna (semua nilai p di bawah 0,001); dan volume air yang dihasilkan oleh kemiringan alat 10º dan 20º juga berbeda (p<0,001), yaitu masing-masing sebesar 946 ml/m2/hari and 1866 ml/m2/hari.

   

Kata Kunci : solar distilator, kekeruhan, besi, mangan, kuantitas air

 

Subject    :  Teknik penyediaan air bersih

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.5, No.2, November 2013, Hal 74 – 80

Posted by : admin jurusan kesling

Posted on :  8 Oktober 2014

VARIASI LAMA WAKTU KONTAK TANAMAN LIDAH MERTUA (Sansevieria trifasciata lorentii mein leibling) DALAM MENURUNKAN KADAR KARBON MONOKSIDA DAN SULFUR DIOKSIDA DI DALAM RUANGAN

Ramadani Sukaningtyas*, Haryono**, Sri Muryani**

 

* JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Jl. Tatabumi 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY 55293

email: ramadanisukaninstyas@yahoo.com

** JKL Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

 

Abstract

 

Urban areas with a lot of industrial and technological activities, and also with densely traffic, re-sult in the increasing of air pollution. 70 % of toxic gases existed in big cities’ air are coming from motor engined vehicles. Meanwhile, the low quality of indoor air are mostly caused by internal source of contaminants. The purposes of the study were to find out the amount of carbon mono-xide (CO) and sulphur dioxide (SO2) concentration decrease after have been contacted to Lidah Mertua plants (Sansevieria trifasciata lorentii mein leibling) among 2, 4 and 6 hour variations; and to know which contact time has the most effective results. The study conducted a quasi ex-periment with controlled time series design by using a green house to observe the data. For each study group, there were five pot of the plants with equal width, height and number of leaf, and were observed from six replications. Descriptively, the results showed that the mean de-crease of CO concentration in the control and treatment groups for 2, 4 and 6 hour contact time were: 47,17 ppm (2,30 %), 120,67 ppm (5,87 %), 212,83 ppm (10,36 %); and 400,83 ppm (19,57 %), 881,50 ppm (43,05 %), 1717,50 ppm (83,88 %) respectively. Meanwhile, for SO2, the mean decrease for both groups were observed as  much as 24,17 ppm (1,76 %), 62,67 ppm (4,57 %), 114,00 ppm (8,32 %); and 225,00 ppm (16,63 %), 480,00 ppm (35,48 %), 886,33 ppm (65,52 %). P-values obtained from the one way anava test were <0.001 for all the measurements. The subsequent LSD test confirmed that the highest results for the two pollutants were yielded from 6 hour contact time with mean difference of 1504,67 for CO and 772,33 for SO2.

    

Keywords : Sansevieria trifasciata lorentii mein leibling, indoor pollution, carbon monoxide,

                    sulphur dioxide

 

Intisari

 

Daerah perkotaan yang mempunyai banyak kegiatan industri dan teknologi serta lalu-lintas yang padat mengakibatkan peningkatan pencemaran udara. 70 % gas beracun yang ada di udara kota-kota besar berasal dari kendaraan bermotor. Sementara itu, rendahnya kualitas udara di dalam ruangan disebabkan oleh sumber kontaminan yang berasal dari dalam ruangan itu sen-diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya penurunan kadar karbon mo-noksida (CO) dan sulfur dioksida (SO2) indoor setelah dikontakkan dengan tanaman Lidah Mer-tua (Sansevieria trifasciata lorentii mein leibling) dengan tiga variasi lama waktu kontak, serta mengetahui mana di antara waktu kontak tersebut yang paling banyak menurunkan kadar ke dua gas polutan di atas. Metoda penelitian yang dipakai adalah quasi experiment di dalam ruang kaca dengan desain controlled time series dan menggunakan enam kali replikasi untuk tiap per-lakuan. Ada lima pot tanaman Lidah Mertua yang digunakan di tiap percobaan dengan jumlah helai daun serta lebar dan tinggi daun yang relatif sama. Secara deskriptif, hasil penelitian mem-perlihatkan bahwa rerata penurunan kadar CO di kelompok kontrol dan perlakuan dengan lama waktu kontak 2, 4 dan 6 jam, berturut-turut adalah sebesar 47,17 ppm (2,30 %), 120,67 ppm (5,87 %), dan 212,83 ppm (10,36 %), serta sebesar 400,83 ppm (19,57 %), 881,50 ppm (43,05 %), dan 1717,50 ppm (83,88 %). Adapun untuk kadar SO2, rerata penurunan yang terjadi, ber-turut-turut adalah sebanyak 24,17 ppm (1,76 %), 62,67 ppm (4,57 %), dan 114,00 ppm (8,32 %); serta sebanyak 225,00 ppm (16,63 %), 480,00 ppm (35,48 %), dan 886,33 ppm (65,52 %). Hasil uji statistik one way anava mendapatkan nilai p<0,001 untuk semua rerata penurunan tersebut. Adapun hasil uji lanjutan dengan LSD menyimpulkan bahwa penurunan kadar karbon CO dan SO2 yang tertinggi dicapai setelah terjadi kontak dengan tanaman Sansevieria selama 6 jam, dengan mean difference untuk kadar CO dan SO2 masing-masing sebesar 1504,67 dan 772,33.

   

Kata Kunci : lidah mertua (Sansevieria trifasciata lorentii mein leibling), pencemaran dalam ruang, karbon monoksida, sulfur dioksida

 

Subject    :  Pencemaran Udara

Bibliografi : Sanitasi, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.5, No.2, November 2013, Hal 59 – 68

Posted by : admin jurusan kesling

Posted on :  8 Oktober 2014